Internet Protocol (IP Address)
Internet Protocol
Kali ini saya akan menjelaskan sedikit tentang Internet Protocol atau yang biasa disebut dengan IP Address
Pengertian
Internet Protocol (IP)
IP adalah standard protokol
dengan nomer STD 5. Standar ini juga termasuk untuk ICMP, dan IGMP. Spesifikasi
untuk IP dapat dilihat di RFC 791, 950, 919, dan 992 dengan update pada RFC
2474. IP juga termasuk dalam protokol internetworking.
Pengalamatan
IP
Alamat IP merupakan representasi
dari 32 bit bilangan unsigned biner. Ditampilkan dalam bentuk desimal dengan
titik. Contoh 10.252.102.23 merupakan contoh valid dari IP.
Alamat IP
(IP Address)
Pengalamatan IP dapat di lihat di
RFC 1166 – Internet Number. Untuk mengidentifikasi suatu host pada internet,
maka tiap host diberi IP address, atau internet address. Apabila host tersebut
tersambung dengan lebih dari 1 jaringan maka disebut multi-homed dimana memiliki 1 IP address untuk masing-masing
interface. IP Address terdiri dari :
IP Address = <nomer
network><nomer host>
Nomer network diatur oleh suatu badan yaitu Regional Internet Registries (RIR),
yaitu :
•
1. American Registry for Internet
Number (ARIN), bertanggung jawab untuk daerah Amerika Utara, Amerika Selatan,
Karibia, dan bagian sahara dari Afrika
2. Reseaux IP Europeens (RIPE),
bertanggung jawab untuk daerah Eropa, Timur Tengah dan bagian Afrika
3. Asia Pasific Network Information
Center (APNIC), bertanggung jawab untuk daerah Asia Pasific IP address merupakan
32 bit bilangan biner dimana bisa dituliskan dengan bilangan desimal dengan
dibagi menjadi 4 kolom dan dipisahkan dengan titik.
Penggunaan IP address adalah
unik, artinya tidak diperbolehkan menggunakan IP address yang sama dalam satu
jaringan.
Pembagian
Kelas Alamat IP (Class-based IP address)
Bit pertama dari alamat IP
memberikan spesifikasi terhadap sisa alamat dari IP. Selain itu juga dapat
memisahkan suatu alamat IP dari jaringan. Network. Alamat Network (network address) biasa disebut juga
sebagai netID, sedangkan untuk alamat
host (host address) biasa disebut
juga sebagai hostID.
Ada 5 kelas pembagian IP address yaitu :
•
Kelas A : Menggunakan 7 bit alamat network dan
24 bit untuk alamat host. Dengan ini memungkinkan adanya 27-2 (126) jaringan
dengan 224-2 (16777214) host, atau lebih dari 2 juta alamat.
•
Kelas B : Menggunakan 14 bit alamat network dan
16 bit untuk alamat host. Dengan ini memungkinkan adanya 214-2 (16382) jaringan
dengan 216-2 (65534) host, atau sekitar 1 juga alamat.
•
Kelas C : Menggunakan 21 bit alamat network dan
8 bit untuk alamat host. Dengan ini memungkin adanya 221-2 (2097150) jaringan
dengan 28-2 (254) host, atau sekitar setengah juta alamat.
•
Kelas D : Alamat ini digunakan untuk multicast
•
Kelas E : Digunakan untuk selanjutnya.
Kelas A
digunakan untuk jaringan yang memiliki jumlah host yang sangat banyak.
Sedangkan kelas C digunakan untuk jaringan kecil dengan jumlah host tidak
sampai 254. sedangkan untuk jaringan dengan jumlah host lebih dari 254 harus
menggunakan kelas B.
Alamat IP yang
perlu diperhatikan :
·
Alamat dengan semua bit = 0, digunakan untuk
alamat jaringan (network address). Contoh 192.168.1.0
·
Alamat dengan semua bit = 1, digunakan untuk
alamat broadcast (broadcast address). Contoh
192.168.1.255
·
Alamat loopback, alamat dengan IP 127.0.0.0
digunakan sebagai alamat loopback dari sistem lokal.
IP Subnet
Perkembangan internet yang
semakin pesat, menyebabkan penggunaan IP semakin banyak, dan jumlah IP yang
tersedia semakin lama semakin habis. Selain itu untuk pengaturan jaringan juga
semakin besar karena jaringannya yang semakin besar. Untuk itu perlu dilakukan
“pengecilan” jaringan yaitu dengan cara membuat subnet (subneting).
Sehingga bentuk dasar dari IP
berubah dengan pertambahan subnetwork atau nomer subnet, menjadi :
<nomer
jaringan><nomer subnet><nomer host>
Jaringan bisa dibagi menjadi
beberapa jaringan kecil dengan membagi IP address dengan pembaginya yang
disebut sebagai subnetmask atau biasa
disebut netmask. Netmask memiliki
format sama seperti IP address.
Contoh penggunaan subnetmask :
· 1. Dengan menggunakan subnetmask 255.255.255.0,
artinya jaringan kita mempunyai 28-2 (254) jumlah host.
·
2. Dengan menggunakan subnetmask 255.255.255.240,
artinya pada kolom terakhir pada subnet tersebut 240 bila dirubah menjadi biner
menjadi 11110000. Bit 0 menandakan jumlah host kita, yaitu 24-2 (14) host.
Tipe Dari
Subneting
Ada 2 tipe subneting yaitu static subneting dan variable length subneting.
Static Subneting
Subneting yang digunakan hanya
memperhatikan dari kelas dari IP address. Contoh untuk jaringan kelas C yang
hanya memiliki 4 host digunakan subneting 255.255.255.0. Dalam hal penggunaan ini akan memudahkan
karena apabila ada penambahan host tidak perlu lagi merubah subnetmask, tetapi
akan melakukan pemborosan sebanyak 250 alamat IP.
Variable
Length Subneting Mask (VLSM)
Subneting yang digunakan
berdasarkan jumlah host. Sehingga akan semakin banyak jaringan yang bisa
dipisahkan.
Gabungan Antara
Static Subneting Dan Variable Length Subneting
Penggunaan subneting biasanya
menggunakan static subneting. Tetapi karena suatu keperluan sebagian kecil
jaringan tersebut menggunakan variable length subneting. Sehingga diperlukan
router untuk menggabungkan kedua jaringan tersebut.
Cara Perhitungan
Subnet
Ada 2
cara menghitung subnet, yaitu :
1. Menggunakan Static Subneting
Suatu jaringan menggunakan kelas A,
menggunakan IP 10.252.102.23.
00001010 11111100 01100110
00010111 Alamat 32 bit
10 252 102 23
Alamat desimal
Artinya 10 sebagai alamat network dan 252.102.23 sebagai
alamat host. Kemudian administrator menentukan bahwa bit 8 sampe dengan bit ke
24 merupakan alamat subnet. Artinya menggunakan subnetmask 255.255.255.0
(11111111 11111111 11111111 00000000 dalam notasi bit). Dengan aturan bit 0 dan
1 maka jaringan tersebut memiliki 216-2 (65534)
subnet dengan masing-masing subnet memiliki jumlah host maksimum sebanyak 28- 2
(254).
2. Menggunakan Variable Length Subneting
Suatu jaringan menggunakan kelas
C, dengan IP address 165.214.32.0. Jaringan tersebut ingin membagi jaringannya
menjadi 5 subnet dengan rincian :
·
Subnet #1 : 50 host
·
Subnet #2 : 50 host
·
Subnet #3 : 50 host
·
Subnet #4 : 30 host
·
Subnet #5 : 30 host
Hal ini tidak bisa dicapai dengan menggunakan static subneting. Untuk contoh ini, apabila menggunakan subneting 255.255.255.192 maka hanya akan terdapat 4 subnet dengan masing-masing subnet memiliki 64 host, yang dibutuhkan 5 subnet. Apabila menggunakan subnet 255.255.255.224, memang bisa memiliki sampe 8 subnet tetapi tiap subnetnya hanya memiliki jumlah host maksimal 32 host, padahal yang diinginkan ada beberapa subnet dengan 50 host.
Solusinya adalah dengan membagi
subnet menjadi 4 subnet dengan menggunakan subnetmask 255.255.255.192 dan
subnet yang terakhir dibagi lagi dengan menggunakan subnetmask 255.255.255.224.
Sehingga akan didapatkan 5 subnet, dengan subnet pertama sampe ketiga bisa
mendapatkan maksimal 64 host dan subnet ke empat dan kelima memiliki 32 host.
IP Routing
Fungsi utama dari sebuah IP
adalah IP routing. Fungsi ini memberikan mekanisme pada router untuk
menyambungkan beberapa jaringan fisik yang berbeda. Sebuah perangkat dapat
difungsikan sebagai host maupun router.
Ada 2 tipe IP routing yaitu :
1. Tipe
Routing
Tipe Routing dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Routing Langsung
Apabila host kita dengan tujuan berada dalam 1
jaringan. Maka data kita bila dikirimkan ketujuan akan langsung dikirimkan
dengan mengenkapsulasi IP datagram pada layer phisical. Hal ini disebut dengan Direct Routing. Contoh: sebuah komputer dengan alamat 192.168.1.2 mengirimkan data ke komputer dengan alamat 192.168.1.3
2. Routing Tidak Langsung
Apabila kita
ingin mengirimkan suatu data ketujuan lain, dimana tujuan tersebut berada di
jaringan yang berbeda dengan kita. Maka untuk itu dibutuhkan 1 IP address lagi
yang digunakan sebagai IP gateway. Alamat pada gateway pertama (hop pertama)
disebut Indirect Route dalam algoritma
IP Routing. Alamat dari gateway pertama yang hanya diperlukan oleh pengirim
untuk mengirimkan data ke tujuan yang berada di jaringan yang berbeda. Contoh: komputer dengan alamat 192.168.1.2 mengirim data ke komputer
dengan alamat 192.1681.3, akan tetapi sebelum menuju ke komputer dengan
alamat 192.168.1.3, data dikirim terlebih dahulu melalui host dengan
alamat 192.168.1.5 kemudian dilanjutkan ke alamat host tujuan.
2.
Table
Routing
Menentukan arah
dari berbagai direct route dapat dilihat dari list akan interface. Sedangkan
untuk list jaringan dan gatewaynya dapat dikonfigurasi kemudian. List tersebut
digunakan untuk fasilitas IP routing. Informasi tersebut disimpan dalam suatu
tabel yang disebut tabel arah (Routing
Table).
Tipe informasi
yang ada pada table routing antara lain :
1.
Direct route yang didapat dari interface yang
terpasang
2.
Indirect route yang dapat dicapai melalui sebuah
atau beberapa gateway
3.
Default route, yang merupakan arah akhir apabila
tidak bisa terhubung melalui direct maupun indirect route.
Destination Router
Interface
129.7.0.0 E Lan0
128.15.0.0 D Lan0
128.10.0.0
B Lan0
Default B Lan0
127.0.0.1
Loopback Lo
Host D terhubung pada jaringan 128.15.0.0 maka digunakan direct route untuk jaringan ini. Untuk menghubungi jaringan 129.7.0.0 dan 128.10.0.0, diperlukan indirect route melalui E dan B.
Sedangkan table routing untuk host F, berisikan :
Destination Router Interface
129.7.0.0
F
Wan0
Default
E
Wan0
127.0.0.1
Loopback
Lo
Karena jaringan selain 129.7.0.0
harus dicapai melalui E, maka host F hanya menggunakan default route melalui E.
Algoritma
IP Routing
Metode
Pengiriman – Unicast, Broadcast, Multicast dan Anycast
Pengiriman data pada IP address
umumnya adalah 1 paket pengiriman, hal ini disebut Unicast. Koneksi unicast
adalah koneksi dengan hubungan one-to-one antara 1 alamat pengirim dan 1 alamat
penerima.
Untuk penerima dengan jumlah lebih dari 1 ada beberapa cara
pengiriman yaitu unicast, broadcast, multicast dan anycast.
Anycast
Istilah unicast dibentuk
dengan analogi siaran istilah yang berarti transmisi data yang sama untuk
semua kemungkinan tujuan. Multi-tujuan lain metode distribusi, multicast,
mengirim data hanya untuk tertarik tujuan dengan menggunakan alamat khusus
tugas.Pesan unicast digunakan untuk semua proses jaringan yang unik pribadi
atau sumber daya yang diminta.Aplikasi jaringan tertentu yang didistribusikan
secara massal terlalu mahal untuk dilakukan dengan transmisi unicast karena
masing-masing koneksi jaringan mengkonsumsi sumber daya komputasi pada
pengiriman host dan memerlukan jaringan terpisah sendiri bandwidth untuk
transmisi. Aplikasi termasuk media streaming dari banyak bentuk. Stasiun radio
internet menggunakan koneksi unicast mungkin memiliki biaya bandwidth yang
tinggi.
Broadcast
Pengiriman data dengan tujuan
semua alamat yang berada dalam 1 jaringan, mode pengiriman data seperti ini
disebut Broadcast. Aplikasi yang menggunakan metode ini akan mengirimkan ke
alamat broadcast. Contoh 192.168.0.255, apabila mengirimkan data ke alamat ini
maka semua host yang berada dalam jaringan tersebut akan menerima data.
Multicast
Pengiriman data dengan tujuan
alamat group dalam 1 jaringan, mode pengiriman data ini disebut Multicast.
Alamat ini menggunakan kelas D, sehingga beberapa host akan didaftarkan dengan
menggunakan alamat kelas D ini. Apabila ada pengirim yang mengirimkan data ke
alamat kelas D ini akan diteruskan menuju ke host-host yang sudah terdaftar di
IP kelas D ini.
Anycast
Apabila suatu pelayanan
menggunakan beberapa IP address yang berbeda, kemudian apabila ada pengirim
mengirimkan data menuju ke pelayanan tersebut maka akan diteruskan ke salah
satu alamat IP tersebut, mode pengiriman ini disebut Anycast. Contoh: Apabila
ada 5 server dengan aplikasi FTP yang sama, maka apabila ada user mengakses
pelayanan FTP tersebut akan diarahkan ke salah satu dari 5 server tersebut.
IP Private
Intranet Kebutuhan IP address beriringan
dengan meningkatnya penggunaan internet. Karena jumlah IP address yang
digunakan semakin lama semakin habis. Untuk mengatasi permasalahan ini
dilakukan penggunaan IP Private.
IP Private ini diatur dalam RFC
1918 – Address alocation for Private Internets. RFC ini menjelaskan penggunaan
IP address yang harus unik secara global. Dan penggunaan beberapa bagian dari
IP address tersebut yang digunakan untuk tidak terhubung langsung ke internet.
Alamat IP ini digunakan untuk jalur intranet.
Alamat-alamat IP
address tersebut adalah :
·
10.0.0.0 : digunakan untuk jaringan kelas A
·
172.16.0.0 – 172.31.0.0 : digunakan untuk
jaringan kelas B
·
192.168.0.0 – 192.168.255.0 : digunakan untuk
jaringan kelas C
Jaringan yang menggunakan alamat tersebut tidak akan
diroutingkan dalam internet.
Classless Inter-Domain Routing (CIDR)
Apabila kita membutuhkan IP
address dengan jumlah host 500 dengan kelas IP C, maka kita harus memiliki 2
subnet. Karena untuk kelas C maksimal host adalah 254. Untuk masing- masing
subnet tersebut harus dimasukkan kedalam table routing pada perangkat router di
jaringan tersebut.
Hal tersebut mengakibatkan jumlah
entri dalam table routing akan semakin membengkak dan akan menguras sumber daya
perangkat. Untuk mengatasi hal tersebut dapat digunakan Classless Inter-Domain
Routing (CIDR). CIDR adalah routing yang tidak memperhatikan kelas dari alamat
IP. CIDR dibahas pada RFC 1518 sampai 1520.
Contoh :
Untuk mengkoneksikan 500 host dengan alamat IP kelas C
diperlukan 2 subnet. IP address yang digunakan adalah 192.168.0.0/255.255.255.0
dengan 192.168.1.0/255.255.255.0, sehingga table routing pada perangkat router
juga ada 2 subnet. Dengan menggunakan CIDR table routing pada perangkat cukup
dengan menggunakan alamat 192.168.0.0/255.255.252.0 dengan ini hanya diperlukan
1 entri table routing untuk terkoneksi dengan jaringan tersebut.
IP Datagram
Unit yang dikirim dalam jaringan
IP adalah IP datagram. Dimana didalamnya terdapat header dan data yang
berhubungan dengan layer diatasnya.
Dimana :
·
VERS : versi dari IP yang digunakan. Versi 4
artinya menggunakan IPv4, 6 artinya IPv6.
·
HLEN : panjang dari IP header
·
Service : no urut quality of service (QoS)
·
Total Length : jumlah dari IP datagram
·
ID :
nomer data dari pengirim apabila terjadi fragmentasi
·
Flags : penanda fragmentasi
·
Fragment offset : no urut data fragmen bisa data
telah di fragmentasi
·
Time to Live (TTL) : lama waktu data boleh berada
di jaringan, satuan detik
·
Protocol : nomer dari jenis protokol yang
digunakan
·
Header checksum : digunakan untuk pengecekan
apabila data rusak
·
Source IP address : 32 bit alamat pengirim
·
Destination IP Address : 32 bit alamat tujuan
·
IP options : digunakan apabila data diperlukan
pengolahan tambahan
·
Padding : digunakan untuk membulatkan jumlah
kolom IP options menjadi 32
·
Data : data yang dikirimkan berikut header di
layer atasnya.
Fragmentasi
Dalam perjalanannya menuju
tujuan, data akan melewati berbagai macam interface yang berbeda. Dimana
masing-masing interface memiliki kemampuan yang berbeda untuk mengirimkan frame
data. Kemampuan ini disebut Maximum
Transfer Unit (MTU). Batas maksimum data dapat ditempatkan dalam 1
frame.
IP dapat memisahkan data yang
terkirim menjadi sebesar MTU. Proses pemisahan ini disebut fragmentasi (fragmentation).
Komentar
Posting Komentar